Sudah dua tahun aku telah berpisah dengannya.
Namun bayang senyumnya tetap menghiasi hari-hariku yang hanya menyisakan rasa
luka dalam dada. Mungkin cintaku padanya seperti sebuah logam. Logam yang kekal
dan tak akan bisa dilenyapkan. Ku coba untuk tetap tersenyum menutupi sedihku
dengan topeng kepalsuan.
“ih apaan sih lu, Nil !”lontarku dengan wajah
kesal.
“gue tau lo sedang mikirin mantan lo si Karis
kan ? ngaku aja deh !”tanya Ujeng mulai dengan gaya keponya.
“iya.” Ucapku dengan bertopang dagu.
“gila bener lu, Mel. dua tahun lo belom bisa
ngelupain mantan lo ? eh lihat ka Rafa dong ! dia always buat lo ! ngapain sih lo mikirin cowok playboy kayak dia !”
lontar Nilna menggebu-gebu.
“tapi gue sayang Karis.”ucapku dan tak ku
tahu ternyata kak Rafa sudah berdiri di pintu.
“eh Ka Rafa !” lontarku menyapa Ka Rafa dan
ku harap dia tak mendenar apa yang ku katakana tadi dengan Nilna. Bukan karena
aku cinta, aku hanya takut dia terluka.
“Mel, nanti pulang sekolah kita bahas pensi
sekolah di ruang osis. Oh iya , Nil dapat salam dari Dicky!”lontar Ka Rafa.
Kurasa dia tidak mendengarnya.
“salam balik ke Dicky !” ucap Nilna.
“jadi tukang pos gue !”ucapnya cuek membuatku
dan Nilna tertawa.
Akhrinya
rapat osis telah selesai, jam telah menunjukan pukul tiga sore. Karena rapat
yang tak ujung usai, aku jadi tidak di jemput oleh ibuku. Ku coba menunggu
transportasi murah kesukaan masyarakat yaitu angkot. Namun sayang, dari
beberapa kendaraan yang lewat tak terlihat satu angkotpun yang datang.
Membuatku semakin jenuh.
“Lo nunggu angkot jam segini memang susah,
mending Lo bareng gue aja !”
Ucap Kak Rafa dengan mengendari motor ninja
merah kesayangannya.
“hmm tapi gue gak bawa helm, kak.” Lontarku
dengan menundukan kepala.
“gue bawa helm dua, nyantai aja.” Ucapnya
dengan memperlihatkan helm merah miliknya.
“ok, thanks
kak.”lontarku seraya menaiki motor yang dikendarai Kak Rafa.
“Pegangan, entar lo bisa jatuh !” ucapnya
dengan senyuman manis ala Kak Rafa.
“iya !” lontarku dengan canggung
langsung berpegangan pinggang Kak Rafa.
(Rumah)
“makasih ya, kak. Lo baik banget ! mau mampir
sebentar di gubukku ?” lontarku dengan senyum mengembang.
“ iya sama-sama. Ah mentang-mentang jago
bikin puisi, bahasanya juga puitis. Sorry deh Melody, di gubuk megah gue lagi
kedatangan sepupu dari Jakarta.”ucapnya dengan senyuman manis ala Kak Rafa.
“haha iya deh, gubuk megah lo ! ya udah gue
masuk dulu ya. Hati-hati di jalan ! jangan lupa kalo ada kucing imut jangan
ditabrak mending kasih gue aja !”lontarku.
“hadeh, ya udah gue pulang dulu ya my princess
cat !”ucapnya dengan wajah mengeledek.
“awas ya lo !” lontarku seraya Kak Rafa melajukan motor
merahnya.
*Rafael PoV*
(Rumah Rafael)
“hei Bro ! apa kabar lo ?”lontar pria tegap
berhidung mancung sepupuku tersayang si Bisma.
“baik, Bro. Gila tambah cakep aja lo !”ucapku
bersemangat.
“ah bisa aja lo, kalo menurut gue nih dari
dulu gue ini cakep, cakep banget !”lontar Bisma dengan senyum mengembang.
“ah narsis lo !” ucapku.
“kalian sudah lama tidak bertemu tetep akrab
ya !” lontar Mamaku.
“iya dong, Budhe. Kita gitu !”jawab Bisma.
“Oh iya, Rafa. Bisma mau sekolah disini loh,
dia akan satu sekolah sama kamu !”ucap
Mama antusias.
“ yang bener lo mau satu sekolah sama gue Bis
?” tanyaku pada Bisma.
“Bener banget kata Budhe. Gue mau sekolah
sama lo ! tapi gue jadi adek kelas lo !” jawabnya dengan antusias.
“ya iyalah, lo kan pernah gak naik waktu
kelas satu sd ! haha” ucapku mengeledek.
“wah resek lo !” Lontar Bisma sambil
mengelitiki tubuhku.
*Meody PoV*
Pagi-pagi
sekali aku sudah bangun dan bersiap untuk berangkat sekolah. Seperti biasa Jalan
raya tak pernah sepi dari pemakainya. Begitu macet, seperti cintaku yang macet
di jalan cinta si Karis.
“Akhirnya sampai sekolah. Semoga gak telat!”ucapku
seraya berlari menuju gerbang yang ku lihat mulai ditutup oleh pak satpam.
“hah..hah..akhirnya berhasil masuk !”ucapku
sambil ngos-ngosan.
“ini buat lo !” ucap seorang pria sipit
dengan senyum manis yaitu Kak Rafa sambill menyodorkan sebotol air putih.
“makasih,kak. Lo tau banget gue lagi haus !”
lontarku seraya mengambil botol air dari Kak Rafa dan meminumnya sampai habis.
“iya, eh pelan-pelan. Bener haus ya lo
!”ucapnya dengan wajah khawatir.
“iya.”lontarku.
“ya udah, gue anterin ke kelas lo !” ucap Kak
Rafa dengan senyuman ala Rafa.
Tiba-tiba…
“Syrett…aaa”ucapku yang hampir jatuh karena
sebuah kulit pisang yang dibuang oleh orang tidak bertanggung jawab.
“deg…deg..deg.. Kenapa jantungku berdebar –debar saat Kak
Rafa memelukku karena mau jatuh ?”batinku dalam hati.
“eh makasih ya, Kak.”ucapku sambil berdiri
merapikan baju.
“iya, kamu gak kenapa-napa kan ?”lontar Kak
Rafa dengan cemas.
“enggak , nyantai aja. Ya udah aku masuk
kelas duluan !”lontarku canggung seraya berlari meninggalkan Kak Rafa.
“Aneh mengapa aku begitu gugup setelah
dipeluk Kak Rafa. Padahal aku tahu Kak Rafa memelukku karena aku mau
jatuh.”batinku dalam hati.
DI KELAS
“Selamat pagi anak-anak”Lontar Pak Diman.
“pagi, pak.”ucap serentak semua anak di
kelas.
“Hari ini kita kedatangan siswa baru, mari
sini, Nak.!”ucap Pak Diman yang diikuti seorang pria yang sangat familiar
menurutku, ya dia Karis.
“Tess..” Air mataku jatuh.
“Kenapa Dia datang kembali setelah aku
berusaha meyakinkan hati untuk mencintai Kak Rafa ?”batinku dalam hati.
“Baiklah Bisma, silahkan duduk dengan Melody
!”ujar Pak Diman membuatku kecewa.
“Tapi pak, ini kan tempat duduknya Nilna
!”ucapku mencoba memperthankan bangku.
“Biar Nilna duduk dengan Anisa besok !sudah
Bisma silahkan duduk dan kita segera mulai pelajarannya” ujar Pak Diman dengan
tegas.
“Baik, Pak.” Ucap Karis dengan senyum tipis
yang mengiris-ngiris hatiku.
“Hai Melody !” serunya.
“…” ku balas dengan senyuman pahit. Aku
benar-benar malas untuk berbicara sepatah katapun padanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar